Padang – Semen Padang FC kini berada di ujung tanduk setelah rentetan hasil buruk membawa mereka semakin dekat ke zona degradasi pada BRI Super League 2025/26. Hingga pekan ke-30, Kabau Sirah baru mengoleksi 20 poin dari 30 pertandingan dan tertahan di peringkat ke-17.

Kondisi itu membuat kans Semen Padang untuk keluar dari zona merah semakin tipis. Dari 29 laga yang sudah dijalani, tim kebanggaan Ranah Minang itu menelan 19 kekalahan, sebuah catatan yang termasuk paling buruk dalam sejarah klub.

Situasi makin memburuk pada April 2026 saat Semen Padang mencatat lima kekalahan beruntun. Rangkaian hasil negatif itu membuat posisi mereka terus terbenam di papan bawah klasemen.

Empat kekalahan beruntun yang dialami SPFC menjelang pekan ke-30 terjadi saat menghadapi Persis Solo dengan skor 1-2 di kandang lawan, Persijap Jepara 0-2 di kandang, Borneo FC 0-3 di tandang, dan Madura United 0-1 di kandang.

Dalam tiga laga terakhir saja, Semen Padang kebobolan enam gol tanpa mampu mencetak satu pun gol balasan. Dua dari tiga kekalahan itu bahkan terjadi di Stadion Haji Agus Salim, kandang mereka sendiri.

Pelatih Imran Nahumarury tak menutupi kekecewaannya usai timnya kalah 0-2 dari Persijap Jepara di GOR Haji Agus Salim pada 20 April 2026. “Apa yang kita inginkan tak tercapai. Kecewa pasti. Suporter, pemain, semua kecewa dan semua sudah perbaiki attacking, defending, transisi,” ujarnya.

Kekecewaan serupa juga ia sampaikan setelah lima kekalahan beruntun. Imran bahkan meminta maaf kepada suporter dan masyarakat Sumatera Barat.

Krisis yang dialami Semen Padang juga tak lepas dari dinamika di kursi pelatih. Pada awal Maret 2026, manajemen memecat Dejan Antonic hanya beberapa jam setelah tim bermain imbang 0-0 melawan PSIM Yogyakarta di kandang.

Keputusan itu mengejutkan banyak pihak. Manajemen menilai hasil tersebut sangat mengecewakan dan menjadi bahan evaluasi serius. “Hasil yang sangat mengecewakan pada pertandingan hari ini menjadi bahan evaluasi serius bagi manajemen. Untuk itu, manajemen memutuskan melakukan pergantian pelatih demi perbaikan dan peningkatan performa tim ke depan,” kata Penasihat Tim Semen Padang FC, Andre Rosiade.

Dejan sebelumnya juga sempat menyampaikan kekecewaannya terhadap penyelesaian akhir anak asuhnya. Namun, dominasi permainan tanpa gol tak cukup menyelamatkan posisinya. Manajemen kemudian menunjuk Imran Nahumarury sebagai pelatih kepala baru.

Harapan sempat disematkan kepada juru taktik anyar itu. Namun, hasil di lapangan justru berbalik arah. Di bawah asuhan Imran, Semen Padang malah menelan lima kekalahan beruntun.

Kini, Semen Padang hanya mengumpulkan 20 poin dan masih bertahan di posisi ke-17. Dengan empat laga tersisa, peluang mereka untuk lolos dari degradasi dinilai sangat kecil.

Di balik angka dan statistik itu, ada persoalan lain yang tak kalah penting: dukungan suporter yang dulu menjadi kekuatan utama tim. Stadion Haji Agus Salim pernah dikenal angker bagi lawan karena kehadiran ribuan pendukung yang setia mengawal tim dalam kondisi menang maupun kalah.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, suasana stadion berubah. Gemuruh suporter yang dulu identik dengan terompet dan dentuman gendang tak lagi terdengar seperti sebelumnya. Semen Padang kini seperti berjuang sendiri di tengah kompetisi yang keras.

Sejarah mencatat, fanatisme suporter Semen Padang pernah melahirkan kisah-kisah ekstrem. Salah satunya adalah peristiwa almarhum wartawan senior Zatako yang sempat dipukuli pendukung PSDS Deli Serdang di Lubuk Pakam karena dianggap memiliki kesaktian saat mendukung SPFC.

Dahulu, suporter selalu hadir ketika tim berjaya. Saat tim terpuruk pun mereka tetap setia. Kini, rentetan kekalahan justru menjadi ujian bagi loyalitas itu.

Pertanyaannya, apakah mereka benar-benar pergi, atau hanya menepi sambil menunggu tim bangkit kembali?

Pesan lama kembali terasa relevan: “Harusnya, di saat pemain dalam posisi sekarat kita jangan tinggalkan mereka. Tetap dukung dan berikan motivasi. Karena suntikan motivasi itulah obat mujarab.”

Meski banyak yang tak lagi terlihat di stadion, sejumlah kelompok suporter masih bertahan. The Kmers, Spartacks, UWS 1980, dan Padang Fans masih tercatat aktif memberi dukungan kepada tim.

Jumlah mereka memang tak sebanyak dulu, tetapi mereka tetap hadir dalam suka dan duka. Di saat yang sama, manajemen klub juga berupaya merangkul para pendukung.

Andre Rosiade pernah mengumpulkan puluhan suporter di Rumah Makan Silungkang untuk memperbaiki komunikasi antara manajemen dan basis pendukung. “Alhamdulillah kita bisa bersilaturahmi hari ini. Kami sebagai penasihat meminta manajemen baru agar rutin berkomunikasi dengan suporter supaya tidak ada lagi sumbatan komunikasi,” kata Andre dalam pertemuan pada November 2025.

Meski begitu, komunikasi saja belum tentu cukup. Suporter membutuhkan kebanggaan, bukan sekadar janji. Mereka ingin melihat tim kesayangan mereka kembali menunjukkan semangat juang dan daya juang yang kuat.

Harapan itu kini bertumpu pada empat laga sisa. Secara matematis, peluang Semen Padang memang tipis. Namun dalam sepak bola, kejutan tetap mungkin terjadi selama masih ada keyakinan.

Jika tidak, setidaknya ada satu pelajaran yang tertinggal: kesetiaan tidak diukur saat tim berada di puncak, melainkan ketika mereka jatuh dan membutuhkan tangan untuk bangkit.

Cerita tentang suporter angker Semen Padang pun belum akan hilang dari ingatan. Meski stadion kini lebih sering hening, kisah mereka akan tetap bergema.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *