Padang – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mendorong optimalisasi potensi ekonomi pesantren melalui pengembangan UMKM berbasis syariah dan pariwisata halal.
Langkah strategis ini bertujuan memperkuat kemandirian pesantren sekaligus menciptakan dampak ekonomi luas bagi masyarakat.
Mahyeldi menyampaikan komitmen tersebut saat menghadiri seminar dan pelantikan pengurus Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Wilayah Sumbar di Aula Anggun Nan Tongga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Selasa (27/10/2026).
Menurut Gubernur, penguatan ekonomi syariah merupakan bentuk nyata penerapan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) di Sumatera Barat.
“Ketika kita menggerakkan ekonomi syariah dan menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan, sesungguhnya itu merupakan wujud dari implementasi falsafah ABS-SBK dalam kehidupan masyarakat,” ujar Mahyeldi.
Ia menegaskan bahwa falsafah ABS-SBK yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2022 menjadi landasan utama pembangunan ekonomi daerah.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berencana mengolaborasikan berbagai pihak mulai dari akademisi, lembaga keuangan, hingga pelaku usaha untuk mewujudkan target tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW IAEI Sumbar, Prof. Ahmad Wira, bertekad mengonsolidasikan organisasi sebagai wadah pemikiran dan rekomendasi kebijakan ekonomi syariah.
Ahmad Wira menuturkan bahwa pihaknya akan memperkuat koordinasi dengan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah serta Masyarakat Ekonomi Syariah.
“IAEI perlu memperkuat perannya sebagai wadah pemikiran, penelitian, dan penyusunan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam mengembangkan ekonomi syariah,” tegas Ahmad Wira.
Pihaknya juga menginstruksikan enam komisariat IAEI di perguruan tinggi untuk lebih aktif melakukan penelitian dan pengabdian di masyarakat.
Di sisi lain, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar, Andy Setyo Biwado, menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan pariwisata ramah Muslim.
Ia menilai persaingan antarwilayah menuntut Sumatera Barat untuk terus berinovasi dalam penyediaan fasilitas dan layanan wisata yang berdaya saing tinggi.
Pengembangan aset pesantren melalui pendampingan usaha dan inovasi produk diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi syariah yang berkelanjutan di Sumatera Barat.











