Sawahlunto – Kerajinan lidi yang dirintis Pak Bakar, 75 tahun, sejak 1993 masih bertahan hingga kini, menjadi sumber penghidupan bagi dirinya dan warga sekitar. Ide ini bermula dari inisiatif Walikota Sawahlunto saat itu, Subari Sukardi, dan Ketua Dekranasda, Ny. Ayati Subari.

Pak Bakar menuturkan, ide pembuatan kerajinan lidi muncul karena potensi Desa Kumbayau yang memiliki ribuan pohon kelapa.

“Saya dan istri diminta membuat sapu lidi hias dan berbagai karya seni dari lidi, seperti keranjang buah,” ujarnya.

Kerajinan lidi Pak Bakar terus berkembang dan diminati hingga ke provinsi tetangga seperti Pekanbaru, Riau.

Sebelum pandemi Covid-19, kelompok kerajinan lidi “Bunga Tanjung Kumbayau” kewalahan memenuhi permintaan dari Pekanbaru. Namun, permintaan menurun drastis selama pandemi.

Saat ini, Pak Bakar mempekerjakan 12 perajin dari warga sekitar. “Alhamdulillah, bisa menambah penghasilan keluarga di desa,” katanya. Berbagai jenis kerajinan lidi dijual dengan harga Rp 13 ribu hingga Rp 20 ribu per item.

Pak Bakar bertekad mempertahankan kerajinan lidi ini karena peluang pasarnya masih menjanjikan. Bahan baku lidi didapatkan dari Kumbayau dan Padang Pariaman.

Dari hasil kerajinan lidi, Pak Bakar berhasil membangun rumah, menyekolahkan anak, dan mengembangkan ternak ayam kampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *