Padang – Program Makanan Bergizi Gratis (PMBG) di Sumatra Barat berpotensi tingkatkan gizi siswa dan ekonomi lokal, namun sejumlah tantangan menghadang.
Analisis Universitas Andalas (Unand) menunjukkan, PMBG yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan kualitas belajar siswa, menghadapi kendala regulasi, koordinasi, anggaran, infrastruktur sekolah, dan rantai pasok.
Meskipun Sumbar kaya akan potensi pangan lokal, distribusi yang tidak merata, terutama di daerah terpencil, menjadi masalah utama.
Fluktuasi harga, keterbatasan penyimpanan, minimnya transportasi, dan kapasitas UMKM yang belum seragam juga menghambat implementasi.
Kota Padang dan Bukittinggi dinilai lebih siap karena fasilitas pendidikan dan tenaga teknis yang memadai.
Sebaliknya, Mentawai menghadapi keterbatasan infrastruktur, akses transportasi, dan minimnya tenaga pendukung.
Koordinasi antar dinas terkait di beberapa kabupaten juga belum terintegrasi penuh.
Unand merekomendasikan harmonisasi kebijakan, peningkatan kapasitas pemerintah daerah, penguatan UMKM, serta pengembangan sistem monitoring dan evaluasi yang komprehensif.
Dengan mengatasi tantangan ini, Sumbar berpeluang menjadi model implementasi PMBG di tingkat nasional.
Sejumlah sekolah pilot menunjukkan dampak positif PMBG, seperti peningkatan kehadiran siswa, fokus belajar, dan kolaborasi dengan UMKM lokal.
Evaluasi berkelanjutan diperlukan untuk mengukur dampak jangka panjang terhadap penurunan stunting dan peningkatan prestasi akademik.











