Jakarta – Konflik di Timur Tengah berpotensi memicu krisis energi global yang dampaknya bisa langsung dirasakan di dapur-dapur rumah tangga Indonesia. Serangan terhadap fasilitas energi di Qatar dan Arab Saudi mengancam pasokan gas dan minyak dunia.

Dosen Teknik Mesin UNAND, Ir. Benny Dwika Leonanda, MT, IPM, menyebut situasi ini sebagai “Kiamat Energi” gelombang kedua.

Harga gas di Eropa melonjak 50% lebih setelah serangan di Qatar. Sementara itu, harga minyak mentah dunia ditahan secara artifisial oleh Amerika Serikat.

Indonesia sangat bergantung pada impor LPG. Sekitar 75% kebutuhan LPG nasional dipasok dari luar negeri.

Penutupan Selat Hormuz akan memutus rantai pasokan LPG ke Indonesia. Cadangan LPG nasional hanya cukup untuk 12-18 hari.

Kondisi ini bisa memicu panic buying, kelumpuhan ekonomi mikro, dan inflasi tak terkendali.

Pasar modal dunia mulai menunjukkan reaksi negatif. Indeks harga saham di Asia berguguran.

Pemerintah Indonesia menghadapi dilema berat. Menaikkan harga BBM dan LPG akan memicu kemarahan publik, namun menanggung subsidi akan membuat APBN jebol.

Benny Dwika Leonanda menekankan kemandirian energi adalah kunci untuk bertahan hidup. Diversifikasi pasokan ke Amerika Serikat adalah langkah awal yang baik, namun perlu diperkuat dengan cadangan strategis dan pengembangan energi alternatif domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *