Padang – Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat (Sumbar) menyoroti kesenjangan kinerja ekonomi daerah dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025. Pertumbuhan ekonomi Sumbar pada Triwulan III 2025 tercatat 3,36% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan nasional 5,04%.

Inflasi Sumbar pada Oktober 2025 mencapai 4,52% (yoy), melampaui inflasi nasional 2,86%. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok pangan akibat pasokan dan cuaca.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar, Andy Setyo Biwado, menyampaikan hal ini dalam PTBI 2025 di Aula Nan Tongga, Padang, Jumat (28/11) malam. Acara ini dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, organisasi perangkat daerah, pimpinan perbankan, pelaku usaha, akademisi, dan media.

BI mencatat, kehati-hatian masyarakat terlihat dari melambatnya pertumbuhan kredit. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap stabil, menunjukkan preferensi masyarakat untuk menabung.

“Meskipun kondisi fundamental terjaga, sentimen pelaku ekonomi masih memerlukan pemulihan,” ujar Andy.

BI optimis terhadap pertumbuhan ekonomi Sumbar ke depan, didorong oleh kinerja industri pengolahan, terutama hilirisasi CPO. Ekspor CPO meningkat signifikan.

Namun, sektor pertanian mengalami perlambatan akibat penurunan produktivitas tanaman pangan dan dampak cuaca ekstrem, yang memicu tekanan inflasi pangan.

BI bersama Pemerintah Daerah memperkuat sinergi melalui program strategis, seperti pengendalian inflasi pangan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) dan koordinasi TPID.

Digitalisasi sistem pembayaran terus diperluas melalui QRIS. Hingga Oktober 2025, pengguna QRIS mencapai 949.441 dan merchant QRIS 674.273, dengan nilai transaksi Rp5,15 triliun.

Penguatan UMKM dan ekonomi kreatif dilakukan melalui program onboarding, business matching, dan Sumatera Barat Creative Economy Festival (SCF) 2025. Tercatat penjualan UMKM sebesar Rp10,62 miliar, akses pembiayaan Rp5,78 miliar, dan business matching ekspor Rp13,37 miliar.

BI juga mendukung ekonomi hijau dengan berkolaborasi dengan PT Semen Padang memanfaatkan limbah uang kertas sebagai bahan bakar alternatif.

Program pertanian berkelanjutan melalui sekolah lapang melibatkan 200 petani milenial, meningkatkan produktivitas padi hingga 10% dan efisiensi biaya produksi 30%.

Dalam kesempatan tersebut, BI Sumbar memberikan apresiasi kepada mitra strategis atas kerja sama dan dukungan yang telah diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *