BOGOR – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Kominfo), Nezar Patria, menyoroti ancaman disinformasi yang dapat menggerus nilai-nilai kebangsaan akibat penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang tidak bijak.

Hal ini disampaikan Nezar saat Retret Bela Negara PWI di Aula Manunggal Pusat Kompetensi Bela Negara BPSDM HAN Kemhan RI, Rumpin, Bogor, Jumat (30/1/2026).

Nezar Patria menekankan pentingnya etika jurnalisme sebagai benteng di tengah gempuran konten AI.

“Jika wartawan tidak bijak menggunakan AI, risiko misinformasi akan meningkat,” tegas Nezar.

Menurutnya, AI rentan digunakan untuk membuat konten palsu yang menarik perhatian publik, seperti manipulasi latar belakang video dan foto.

Pemerhati media sosial, Adrian Toaik, menambahkan pemerintah perlu bertindak cepat dalam menghadapi dampak negatif AI dan media sosial.

“Jangan hanya menghormati kebebasan berekspresi, tetapi pelintiran dan framing palsu dapat berdampak pada keharmonisan bangsa,” ujarnya.

Toaik berharap Kominfo memiliki mekanisme “penangkal petir” untuk konten yang merusak nilai-nilai cinta tanah air.

Nezar Patria juga menantang media mainstream untuk menyajikan berita “on the ground” dan “on the spot” yang belum bisa dilakukan oleh AI.

Ia mendorong penguatan produksi konten real-time melalui visualisasi, video pendek, dan infografis.

“Berita human interest juga sulit disajikan oleh AI karena tidak memiliki emosi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *