PADANG – Mahasiswa Universitas Andalas (UNAND) melalui Program Mahasiswa Berdampak Aksara Peduli 2026 mengembangkan potensi ekowisata tumbuhan obat di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Kegiatan bertajuk pemberdayaan kelompok masyarakat ini berlangsung sejak 5 Oktober hingga 31 Desember 2026.

Program ini mengusung konsep Ethnobotanical Garden untuk mengintegrasikan kekayaan alam dengan pengetahuan tradisional masyarakat setempat.

Dosen pembimbing, apt. Suryati, M.Farm., PhD, menegaskan bahwa tumbuhan obat di Desa Muntei merupakan aset berharga yang harus dilestarikan.

“Potensi tumbuhan obat lokal di Desa Muntei bukan hanya kekayaan alam, tetapi juga menyimpan pengetahuan tradisional yang perlu dijaga dan diwariskan,” ujar Suryati pada Jumat (30/10/2026).

Suryati menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan agar masyarakat mampu mengelola potensi alam menjadi ekowisata yang memberikan manfaat ekonomi dan edukasi berkelanjutan.

Pembangunan Ethnobotanical Garden nantinya berfungsi sebagai ruang pengenalan biodiversitas serta pusat pengetahuan etnofarmasi khas Mentawai.

“Melalui program ini, kami ingin mendorong masyarakat agar dapat mengembangkan potensi tersebut menjadi kegiatan yang memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan,” kata Suryati menambahkan.

Tim mahasiswa yang dipimpin oleh Rahmad Hidayat ini berkolaborasi dengan Mitra Tani serta Sanggar Seni Uma Jaraik Sikerei.

Proyek ini turut melibatkan sinergi lintas disiplin dari Fakultas Farmasi, Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, serta Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Berbagai bidang keilmuan tersebut menyokong pengembangan ekowisata dari aspek pengelolaan sumber daya, pemberdayaan masyarakat, hingga pelestarian budaya tradisional.

Program ini mendapatkan pendanaan resmi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Mahasiswa diharapkan dapat menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung untuk membangun desa wisata yang edukatif sekaligus menjaga kearifan lokal Mentawai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *