Jakarta – Pemerintah menyatakan operasi modifikasi cuaca menggunakan es kering dan garam dapur terbukti efektif mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa es kering berfungsi sebagai pembuka jalan sebelum penyemaian garam dilakukan untuk memicu hujan.
Metode tersebut diterapkan guna menembus lapisan asap tebal agar sinar matahari dapat memicu pertumbuhan awan hujan.
“Sekarang kita coba pakai dry ice untuk memecah asap sehingga matahari bisa sedikit masuk sebagai pengungkit munculnya benih awan hujan, baru dihantam pakai OMC NaCl,” kata Prasetyo di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Prasetyo menambahkan bahwa langkah tersebut telah membuahkan hasil positif di sejumlah wilayah terdampak.
“Alhamdulillah di beberapa kabupaten dilaporkan mulai terjadi turun hujan,” ujar Prasetyo.
Pemerintah tercatat telah menyemai 1.600 kilogram garam dan 4.000 kilogram es kering di Sumatera Selatan sejak 16 Oktober untuk memperbaiki jarak pandang.
Posko Lampung turut mendukung upaya ini dengan mengerahkan enam sorti penerbangan yang membawa 4.800 kilogram es kering.
Operasi di Kalimantan Tengah sejak akhir Agustus telah menghabiskan 43.800 kilogram garam melalui 48 sorti penerbangan.
Langkah tersebut berhasil menghasilkan curah hujan sebanyak 67,45 juta meter kubik yang tersebar di wilayah Kotawaringin Timur hingga Barito Timur.
Kalimantan Selatan mencatat capaian signifikan dengan produksi hujan mencapai 222,67 juta meter kubik melalui penggunaan 23.000 kilogram garam sejak awal Oktober.
Dampak positif dari operasi tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat di Kabupaten Tabalong, Tapin, dan Barito Kuala.
Operasi paling intensif dilakukan di Kalimantan Barat dengan total 98.800 kilogram garam yang disemai sejak 22 Agustus.
Upaya tersebut menghasilkan curah hujan sebesar 471,2 juta meter kubik di sebagian besar wilayah, termasuk Sanggau, Kubu Raya, Sambas, dan Ketapang.
Prasetyo menegaskan bahwa integrasi antara posko pusat dan daerah menjadi kunci utama keberhasilan operasi ini.
Strategi tersebut diterapkan untuk mengatasi kendala jarak pandang yang sering menghambat pergerakan pesawat di lokasi titik api.











