Padang – Sumatera Barat perlu menerapkan mitigasi bencana berbasis spasial dan kearifan lokal, serta memperkuat sistem peringatan dini. Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta, Dr. Haryani MT.

Haryani menjelaskan, cuaca ekstrem yang memicu banjir, galodo (banjir bandang), dan longsor merupakan fenomena berulang di Sumbar. Kondisi ini dipengaruhi kondisi geografis dan klimatologis wilayah tersebut.

“Setiap tahun, pola ini cenderung berulang dengan tingkat keparahan yang bervariasi,” tegasnya.

Sumbar sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi karena kombinasi intensitas hujan tinggi, topografi bergunung, dan jaringan sungai yang berhulu di pegunungan Bukit Barisan.

Hujan dengan intensitas tinggi (≥50-100 mm/hari) memicu limpasan air permukaan dan memuaskan kapasitas sungai.

Banjir sering terjadi di dataran rendah dan bantaran sungai seperti di Padang, Pesisir Selatan, Dharmasraya, dan Agam, terutama di wilayah dengan drainase buruk atau sedimentasi sungai tinggi.

Galodo, bencana khas Sumbar, berasal dari hujan deras di hulu sungai dan membawa material seperti batu, kerikil, kayu, serta lumpur.

“Untuk karakteristik galodo, terjadi secara tiba-tiba, debit naik mendadak. Aliran sangat kuat dan membawa material besar,” jelas Haryani.

Longsor sering terjadi di lereng curam sepanjang Jalan Lintas Sumatera dan jalur pegunungan, serta daerah perkampungan di kaki bukit atau tebing sungai.

Faktor pemicu longsor antara lain tanah jenuh air, struktur geologi berupa batuan vulkanik muda yang mudah lapuk, penggundulan hutan, dan aktivitas manusia di lereng tidak stabil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *