Jakarta – Pemerintah memastikan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) akan membeli minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari produsen dan petani lokal dengan mengacu pada harga pasar internasional. Penegasan ini disampaikan untuk meredam kekhawatiran pelaku industri sawit soal kemungkinan pembelian di bawah harga pasar oleh badan usaha tersebut.

Managing Director Stakeholders Management & Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengatakan pihaknya berkomitmen menjaga harga tetap kompetitif bagi pelaku usaha. “Harganya akan sebagus harga di pasar,” ujar Rohan dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Rabu (20/5).

Rohan menjelaskan, komoditas seperti batu bara dan CPO memiliki acuan harga internasional yang baku melalui bursa. Dalam skema yang disiapkan, DSI akan menjadi pembeli langsung dari produsen dalam negeri sebelum menyalurkan komoditas itu ke pasar global.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menambahkan pembentukan DSI ditujukan untuk memperbaiki tata kelola ekspor nasional. Langkah ini juga dimaksudkan untuk menutup celah praktik under invoicing dan transfer pricing yang selama ini dinilai merugikan penerimaan negara.

Pemerintah menyoroti pola sebagian perusahaan dalam negeri yang menjual komoditas ke anak usaha di Singapura sebelum diteruskan ke negara tujuan akhir, seperti Amerika Serikat. Meski pengiriman fisik dilakukan langsung dari Indonesia, dokumen transaksi kerap direkayasa di Singapura, sehingga nilai jual ke negara tujuan bisa dua kali lebih tinggi dibanding harga ekspor yang dilaporkan dari Indonesia.

Di sisi lain, pengumuman pembentukan DSI sempat memicu gejolak sentimen pasar. Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) mencatat penurunan harga tandan buah segar (TBS) di sejumlah daerah, antara lain Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, dan Sumatera Utara.

Ketua Umum POPSI, Mansuetus Darto, menilai ketidakpastian aturan teknis memicu kepanikan pasar dan spekulasi yang menekan harga di tingkat petani.

Menanggapi kondisi itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan harga CPO di pasar internasional saat ini justru sedang menguat dan tetap menjadi acuan utama perdagangan.

Pemerintah menargetkan DSI mengelola ekspor tiga komoditas utama, yakni batu bara, CPO, dan ferro alloy. Namun, pelaku industri masih menunggu detail aturan teknis mengenai skema pembelian serta posisi pelaku usaha swasta dalam rantai ekspor yang direncanakan berjalan penuh pada 1 September mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *