Lubuk Basung – Retret Wawasan Kebangsaan Pemuda Tahun 2026 di Camping Ground Garuda Mas, Nagari Manggopoh, Selasa (5/5), menjadi ajang pembinaan karakter sekaligus penguatan nasionalisme bagi generasi muda di Sumatera Barat.
Kegiatan ini merupakan inisiasi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar bersama Anggota DPRD Sumbar, Ridwan Dt Tumbijo. Pemerintah Kabupaten Agam turut hadir melalui Staf Ahli Bidang Sumber Daya Manusia, Taslim, sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pemuda.
Pembukaan kegiatan dilakukan melalui pemasangan kokarde oleh sejumlah pejabat, di antaranya Bupati Agam yang diwakili Taslim, Kepala Dispora Sumbar Mahdianur yang mewakili Gubernur Sumbar, Ridwan Dt Tumbijo, serta Camat Lubuk Basung Ricky Eka Putra bersama unsur terkait lainnya.
Ridwan Dt Tumbijo menjelaskan, retret ini dirancang untuk menumbuhkan kecintaan pemuda terhadap tanah air. Ia berharap kegiatan serupa semakin dikenal di dunia pendidikan dan mampu melahirkan generasi yang kuat secara intelektual, emosional, spiritual, serta memiliki nasionalisme tinggi.
“Inti kegiatan ini adalah bagaimana memberikan wawasan dan semangat cinta kepada tanah air. Diharapkan ke depan kegiatan retret ini semakin eksis di dunia pendidikan, sehingga mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual, tetapi juga memiliki rasa nasionalisme yang tinggi,” kata Ridwan.
Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, retret gelombang pertama ini diharapkan bisa menjadi model pembinaan generasi muda di tengah masyarakat.
Taslim, mewakili Bupati Agam, menegaskan pentingnya pembinaan karakter pemuda melalui retret. Menurut dia, kegiatan ini bukan sekadar agenda biasa, melainkan sarana untuk memperkuat jati diri, nasionalisme, dan tanggung jawab generasi muda terhadap masa depan bangsa.
Ia menjelaskan, retret memberi ruang bagi peserta untuk sejenak menarik diri dari rutinitas, lalu melakukan refleksi dan pengembangan diri.
Taslim juga menyoroti kondisi sebagian generasi muda saat ini yang dinilai mulai kehilangan ketangguhan dan mudah terpengaruh gaya hidup kurang produktif. Hal itu, kata dia, berbeda dengan generasi terdahulu yang ditempa perjuangan dan pengorbanan.
“Tokoh-tokoh bangsa seperti Bung Hatta, Sutan Syahrir, Agus Salim, Rohana Kudus, dan Siti Manggopoh telah menunjukkan semangat juang, disiplin, serta dedikasi tinggi untuk bangsa. Nilai-nilai inilah yang harus diwarisi oleh generasi muda saat ini,” tegasnya.
Ia menambahkan, kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. Karena itu, generasi sekarang memikul tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif serta menjaga kedaulatan bangsa.
Taslim juga mengingatkan adanya ancaman “penjajahan gaya baru” melalui pengaruh negatif seperti penyalahgunaan teknologi, narkoba, dan budaya luar yang merusak karakter.
Dalam kesempatan itu, peserta retret diharapkan mampu melakukan refleksi diri, memperluas wawasan, dan memperkuat komitmen untuk menjadi pemuda yang berintegritas, berdaya saing, serta berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Kepala Dispora Sumbar, Mahdianur, menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi digital sebagai peluang bagi pemuda, terutama untuk pengembangan ekonomi kreatif.
“Dispora Sumbar mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis digital melalui pelatihan dan pembentukan komunitas penjualan online, sekaligus membuka ruang bagi kreator muda,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengingatkan agar pemuda tidak terjebak dalam dampak negatif perkembangan teknologi.
“Jangan sampai kita diperbudak oleh gadget. Justru kita harus mampu memanfaatkannya untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan ekonomi di masa depan,” tambahnya.
Retret bertema Membangun Karakter Pemuda yang Berjiwa Nasionalis, Berintegritas, dan Berwawasan Kebangsaan dalam Bingkai Empat Pilar Kebangsaan itu digelar dengan konsep perkemahan alam terbuka di kawasan Objek Wisata Garuda Mas.
Konsep tersebut memberi pengalaman langsung kepada peserta untuk melatih kemandirian, kedisiplinan, dan kebersamaan. Peserta juga diajak menelusuri nilai historis Manggopoh sebagai daerah perjuangan, termasuk semangat kepahlawanan Siti Manggopoh yang menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap penjajahan.











