Agam – Proyek revitalisasi SMP Negeri 3 Anak Aia Kasiang di Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam, yang dibiayai APBN sebesar Rp2,975 miliar, diduga tidak sesuai dengan aturan konstruksi yang berlaku. Bahkan, rencana anggaran biaya (RAB) dan gambar pekerjaan disebut akan diubah oleh konsultan perencana karena kondisi fisik bangunan sudah mendekati tahap finishing.

Ketua LSM Garuda Nasional Indonesia DPW Sumbar, Rahmatsyah, menilai perubahan RAB dan gambar tidak bisa dilakukan begitu saja. Ia mengatakan, penyesuaian itu harus lebih dulu disampaikan ke Dinas Pendidikan.

“Kalau ada perubahan, kepala dinas harus tahu. Kondisi proyek ini terkesan sudah melanggar aturan,” ujarnya di Padang Baru, Lubuk Basung, Senin (10/8/2026).

Rahmatsyah menjelaskan, proyek tersebut terdiri atas sembilan item pekerjaan, yakni pembangunan dua kopel ruang kelas baru, ruang administrasi, ruang UKS, WC/toilet, laboratorium komputer, rehab tiga ruang kelas, rehab ruang pustaka dan guru, rehab laboratorium IPA, serta rehab WC/toilet.

Ia juga menekankan perlunya konsultan perencana membuat justifikasi teknis atau Jastek sebagai dasar resmi perubahan kontrak kerja. Dokumen itu, kata Rahmatsyah, menjadi penjelasan teknis mengapa volume pekerjaan berubah, baik bertambah maupun berkurang.

“Jastek itu penting sebagai dasar hukum sebelum diterbitkan CCO. Itu juga jadi bukti sah bagi auditor bahwa perubahan proyek memang karena kebutuhan lapangan, bukan rekayasa,” katanya.

Menurut Rahmatsyah, hasil pantauan timnya di lokasi menunjukkan pekerjaan struktur bangunan jauh menyimpang dari gambar dan RAB. Ia menyebut, dalam gambar tiang induk menggunakan besi diameter 12 dengan pasangan 6, tetapi yang terpasang disebut hanya pasangan 4.

Tim LSM Garuda Nasional Indonesia DPW Sumbar mengaku telah turun ke lokasi proyek pada Senin (3/8/2026). Saat itu, progres pekerjaan disebut sudah mencapai sekitar 90 persen.

Seluruh tiang dinyatakan sudah ditutup cor semen. Kusen juga sudah terpasang dengan jenis kayu Tambalun, sementara rangka baja menggunakan merek Wija.

Kepala tukang sekaligus ketua komite sekolah, Sawaludin, mengatakan pemasangan besi tiang induk menggunakan besi diameter 12 dengan jumlah pasangan 6, sedangkan tiang penyangga memakai pasangan 4 dengan besi diameter 12.

“Karena item pekerjaan banyak, mungkin di luar kendali kami. Walau memang ada juga pasangan 4 untuk tiang induk, dalam spek teknis tidak dikunci,” katanya di lokasi proyek.

Meski begitu, Sawaludin menegaskan pemasangan besi tiang induk sudah sesuai gambar dan spesifikasi teknis. Ia mengatakan pekerjaan di lapangan dilakukan sesuai RAB.

Sementara itu, Kepala SMPN 3 Anak Aia Kasiang, Rida Iswati, mengatakan dirinya tidak mengetahui persoalan teknis dalam proyek revitalisasi sekolah terdampak bencana tahun 2026 itu.

“Untuk kejelasannya silahkan hubungi konsultan perencana dan pengawas proyek,” ujarnya saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Senin (3/8/2026).

Pengawas proyek, Rinaldi, juga menyatakan tidak mengetahui persoalan teknis pemasangan besi tiang induk pada proyek APBN tersebut.

“Saya sama sekali tidak paham masalah teknis, silahkan hubungi konsultan pengawas Ahmat Yani,” katanya saat dihubungi via ponsel pada Selasa (4/8/2026).

Setelah beberapa kali dihubungi, konsultan pengawas proyek, Ahmat Yani, mengatakan proyek revitalisasi itu telah didatangi orang dari kementerian. Ia tidak menyebutkan secara rinci siapa yang datang.

Ahmat tidak membantah adanya ketidaksesuaian antara pasangan besi tiang induk dengan gambar dan RAB. Ia mengatakan dalam gambar, balok dan tiang penyangga menggunakan besi pasangan 6, tetapi di lapangan dipasang pasangan 4.

“Itu memang ada kesalahan pada pasangan konstruksi pemasangan besi tiang induk. Semua tiang induk besinya pasangan 4, sama dengan tiang penyangga. Kami akan merubah kembali RAB dan gambar sesuai kondisi bangunan konstruksi,” ujarnya.

Ia juga berjanji akan memberikan spesifikasi teknis proyek revitalisasi sekolah tersebut.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Agam, Andri, tidak bersedia memberikan keterangan saat dihubungi pada Rabu (5/8/2026) melalui ponselnya. Lewat pesan WhatsApp, ia justru mengarahkan konfirmasi lebih teknis ke Kabid Dikmen, Ariandi.

“Untuk konfirmasi lebih teknis disarankan kepada Kabid SMP,” tulisnya melalui WhatsApp.

Namun, saat dimintai tanggapan, Ariandi beralasan sedang rapat. Panggilan telepon ke ponselnya juga tidak diangkat. Hingga berita ini ditulis, ia terkesan enggan memberi keterangan terkait proyek revitalisasi SMPN 3 Anak Aia Kasiang yang menggunakan dana APBN senilai Rp2,975 miliar tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *