Padang Pariaman – Universitas Negeri Padang (UNP) mendorong warga Nagari Sikabu, Kabupaten Padang Pariaman, mengolah jagung dan kelapa menjadi produk pangan bergizi serta bernilai tambah melalui program pengabdian masyarakat yang digelar di Balairung Wali Nagari Sikabu, Kamis (16/7/2026).

Program bertajuk “Peningkatan Gizi Keluarga Melalui Up-Skilling Pengolahan Pangan Berbasis Jagung dan Kelapa” itu didanai melalui Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00-14.00 WIB tersebut melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kampus Indah dan Kelompok Tani Balanti Indah sebagai mitra.

Melalui kegiatan ini, UNP menargetkan peningkatan keterampilan masyarakat dalam mengolah pangan lokal, memperkuat gizi keluarga, sekaligus membuka peluang usaha berbasis hasil pertanian.

Wali Nagari Sikabu menyambut baik kehadiran UNP. Ia menilai jagung dan kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh di wilayahnya.

“Kami sangat berterima kasih kepada Universitas Negeri Padang yang telah hadir membawa ilmu dan inovasi kepada masyarakat kami. Potensi jagung dan kelapa di Nagari Sikabu cukup besar, sehingga kegiatan seperti ini sangat kami harapkan mampu meningkatkan pengetahuan sekaligus kesejahteraan masyarakat,” ujar Wali Nagari Sikabu.

Dalam pelatihan itu, peserta diajak melihat jagung bukan sekadar sebagai hasil panen, tetapi juga sebagai bahan baku beragam produk pangan. Selama ini, jagung di wilayah tersebut masih banyak dimanfaatkan secara sederhana, seperti direbus atau dijual langsung.

Seorang anggota KWT Kampus Indah menuturkan bahwa warga kerap menghadapi persoalan dalam mengajak anak-anak menyukai pangan berbasis jagung.

“Selama ini jagung hanya kami rebus atau dijual begitu saja. Bagaimana agar anak-anak lebih tertarik mengonsumsinya?” katanya.

Menanggapi hal itu, Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Rahadian Zainul, S.Pd., M.Si., menjelaskan bahwa inovasi pengolahan dapat memperluas pemanfaatan jagung di tingkat keluarga.

“Kuncinya adalah inovasi. Jagung dapat diolah menjadi berbagai produk yang lebih menarik, seperti susu jagung, nugget jagung, puding, maupun makanan ringan bergizi. Dengan pengolahan yang tepat, nilai gizinya tetap terjaga dan anak-anak akan lebih menyukainya,” jelas Prof. Rahadian.

Susu jagung, nugget jagung, puding, dan makanan ringan bergizi diperkenalkan sebagai contoh olahan alternatif. Diversifikasi ini diarahkan agar hasil pertanian tidak hanya dikonsumsi atau dijual mentah, tetapi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Persoalan lain juga muncul dari musim panen yang kerap membuat pasokan jagung melimpah dan harga jual turun. Seorang anggota Kelompok Tani Balanti Indah menyampaikan kondisi itu dalam diskusi.

Menjawab hal tersebut, Prof. Dr. Elida, M.Pd. menekankan pentingnya pengolahan pascapanen.

“Inilah pentingnya meningkatkan keterampilan masyarakat. Ketika hasil panen diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah, harga jualnya akan meningkat dan masa simpannya juga lebih panjang. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga menjual produk yang lebih bernilai,” kata Prof. Elida.

Selain jagung, kelapa juga menjadi perhatian dalam pelatihan itu. Selama ini, peserta menyebut kelapa lebih banyak digunakan sebagai bahan santan.

Tim pengabdian menjelaskan bahwa kelapa sebenarnya bisa dimanfaatkan lebih luas karena hampir seluruh bagiannya memiliki nilai ekonomi dan berpotensi diolah menjadi produk pangan bernilai tambah.

Dalam materi pengolahan pangan, Prof. Elida memperkenalkan teknik pengolahan jagung dan kelapa yang sederhana, higienis, serta dapat dilakukan dengan peralatan rumah tangga. Cara ini dipilih agar peserta mampu mempraktikkannya secara mandiri setelah kegiatan selesai.

Naskah sumber tidak merinci jenis produk olahan kelapa yang diperkenalkan. Karena itu, pengembangan kelapa dalam program ini difokuskan pada peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai potensi pemanfaatannya sebagai bahan pangan bernilai tambah.

Program ini tidak hanya menyoroti aspek ekonomi, tetapi juga gizi keluarga. Peserta mendapat materi tentang gizi seimbang, pemanfaatan jagung dan kelapa sebagai sumber pangan bergizi, serta pencegahan stunting.

Prof. Rahadian menegaskan bahwa pengabdian ini tidak berhenti pada penyampaian materi, melainkan mendorong masyarakat untuk menerapkan keterampilan yang diperoleh.

“Kami tidak datang hanya untuk memberikan materi, tetapi ingin bersama-sama membangun kemampuan masyarakat agar potensi jagung dan kelapa yang melimpah di Nagari Sikabu dapat diolah menjadi produk bergizi, bernilai tambah, dan berpeluang menjadi sumber pendapatan keluarga,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan produk berbasis jagung dan kelapa diarahkan pada tiga sasaran utama, yakni peningkatan keterampilan pengolahan pangan, penguatan gizi keluarga, dan peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian.

Pelatihan itu juga memberi ruang bagi peserta untuk menyampaikan pengalaman, kendala, dan rencana pengembangan usaha. Sejumlah peserta bahkan menyatakan minat mengolah jagung dan kelapa menjadi usaha kelompok.

Prof. Rahadian mendorong agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan.

“Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini tidak berhenti di ruang pelatihan. Mari kita praktikkan bersama sehingga nantinya lahir produk-produk unggulan dari Nagari Sikabu yang mampu meningkatkan gizi keluarga sekaligus menambah pendapatan masyarakat,” katanya.

Hasil evaluasi menunjukkan peserta mengalami peningkatan pengetahuan tentang gizi keluarga, pencegahan stunting, serta pengolahan jagung dan kelapa menjadi produk pangan bergizi dan bernilai ekonomi.

Tim pengabdian bersama pemerintah nagari dan masyarakat juga membahas tindak lanjut agar inovasi olahan berbasis jagung dan kelapa dapat terus berkembang di Nagari Sikabu.

Program ini sekaligus menunjukkan penerapan konsep Kampus Berdampak, yakni penggunaan pengetahuan perguruan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Kegiatan tersebut juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, terutama SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan melalui penguatan ketahanan pangan dan gizi keluarga, serta SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi gizi seimbang dan pencegahan stunting.

Selain itu, pengembangan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah dan minat peserta membangun usaha kelompok berkaitan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Optimalisasi jagung dan kelapa melalui pengolahan pangan juga relevan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Adapun kolaborasi UNP, Pemerintah Nagari Sikabu, KWT Kampus Indah, dan Kelompok Tani Balanti Indah mencerminkan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Melalui program ini, jagung dan kelapa didorong tidak lagi sebatas komoditas konsumsi atau jual mentah, melainkan bahan baku produk pangan yang lebih beragam dan bernilai tambah. Upaya tersebut juga memperkuat kerja sama perguruan tinggi, pemerintah nagari, dan kelompok masyarakat dalam meningkatkan ketahanan pangan berbasis potensi lokal serta mendorong lahirnya usaha pangan inovatif di Nagari Sikabu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *