Jakarta – Kementerian Kesehatan menegaskan hantavirus bukan penyakit baru di Indonesia, meski kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul wabah di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Spanyol. Virus zoonosis yang menular melalui tikus dan celurut itu ternyata sudah terdeteksi di Tanah Air sejak 1991.

Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan hantavirus dengan tipe klinis Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) sudah ditemukan di Indonesia sejak 1991. Ia menegaskan, sampai saat ini belum ada bukti penularan antarmanusia untuk tipe HFRS.

Berdasarkan laporan WHO per 7 Mei 2026, tercatat delapan kasus hantavirus dengan lima di antaranya sudah terkonfirmasi. Adapun di Indonesia, Kemenkes mencatat ada 23 kasus dalam periode 2024-2026, dengan 20 pasien sembuh dan tiga orang meninggal dunia.

Kasus terbanyak terjadi pada 2025 dengan 17 kasus. Sementara itu, pada 2026 tercatat lima kasus dan pada 2024 satu kasus.

Penularan hantavirus terjadi setelah seseorang kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk melalui ekskresi dan sekresi hewan tersebut. Andi menyebut, di Asia termasuk Indonesia, serta di Eropa, kasus yang ditemukan umumnya merupakan tipe HFRS.

Pakar Penyakit Menular dari University of Michigan Health, Emily Abdoler, mengatakan infeksi hantavirus kerap terlambat terdeteksi karena gejalanya tidak khas. Ia menilai penyakit ini jarang ditemukan, tetapi tingkat kematiannya bisa mencapai 40 persen.

Tingginya angka kematian disebabkan virus ini menyerang organ vital seperti paru-paru dan ginjal. Lalu, bagaimana gambaran kasus hantavirus di Indonesia, termasuk gejala dan pengobatannya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *