Padang – Sebanyak 600 kepala keluarga atau 2.053 warga Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, terisolasi sejak Rabu pagi (13/5/2026) setelah satu-satunya akses keluar-masuk kampung mereka tertimbun longsor dan amblas membentuk lubang menyerupai sinkhole.

Kondisi itu terjadi akibat hujan deras yang mengguyur daerah tersebut sejak Selasa malam (12/5/2026). Akibatnya, kendaraan tidak bisa lagi melintas ke dan dari nagari itu.

“Ya, sebanyak 600 kepala keluarga atau 2.000 jiwa warga kami terisolasi karena jalan tertimbun longsor dan amblas. Kendaraan tak bisa keluar-masuk. Kami minta bantuan pemda,” kata Wali Nagari Situjuah Ladang Laweh, Mawardi Dt Sinaro Paneh, bersama Ketua Bamus Ustad Yulius, Bhabinkamtibmas Aiptu Rinaldi, Babinsa, dan sejumlah tokoh masyarakat.

Meninjau lokasi pada Rabu pagi, anggota Komisi II DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, mendesak pemerintah daerah bergerak cepat. Ia menilai jalan kabupaten itu tidak lagi bisa dilalui karena bukan hanya amblas dan berlubang, tetapi juga tertutup material longsor.

“Jalan ini satu-satunya akses keluar-masuk Nagari Situjuah Ladang Laweh. Dampaknya, 600 KK dengan total 2.000-an jiwa terisolasi. Sekolah libur. Ekonomi nyaris lumpuh. Jalan ini harus segera diperbaiki,” ujarnya.

Fajar juga meminta Pemkab Limapuluh Kota segera menetapkan langkah tanggap darurat untuk menangani longsor, banjir, dan tanah amblas yang kembali melanda wilayah itu setelah hujan deras mengguyur sejak Selasa sore hingga Rabu dini hari.

“Kita minta pemda segera melakukan langkah tanggap darurat. Mulai dari kaji cepat lokasi dan kerusakan bencana, penyelamatan dan evakuasi, pembersihan lokasi, sampai pemenuhan kebutuhan dasar warga yang melakukan evakuasi secara mandiri,” kata Fajar Rillah Vesky.

Ia menambahkan, jika dampak bencana meluas dan dana operasional petugas terbatas, pemerintah daerah tidak perlu ragu menetapkan status tanggap darurat bencana. Langkah itu, menurut dia, akan memudahkan penggunaan dana tak terduga dalam APBD 2026 sekaligus membuka ruang mobilisasi bantuan dari berbagai pihak.

Tak hanya Situjuah Ladang Laweh, bencana hidrometeorologi juga berdampak di Nagari Tungkar. Warga di wilayah itu terpaksa mengungsi. Sementara itu, aliran Sungai Batang Sandir atau Batang Air Pondam yang bermuara ke Batang Agam, Payakumbuh, kembali meluap dan merendam lahan pertanian serta merusak area lubuk ikan larangan. Jalan pertanian di kawasan itu juga ikut longsor.

“Pemerintah nagari terdampak bencana tentu sedang mendata kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana ini. Laporan dari nagari dan camat harus jadi perhatian serius pemda,” ujar Fajar.

Ia menekankan, penanganan bencana tidak boleh dilakukan secara parsial atau sekadar reaktif saat bencana terjadi. Menurutnya, pemerintah daerah perlu menyusun langkah dari hulu ke hilir agar penanganan lebih menyeluruh.

“Banyak pakar dan ahli lingkungan sudah menyebut bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi di Limapuluh Kota bukan masalah lokal saja, tetapi terkait ekosistem atau anomali iklim. Maka harus ada penanganan jangka panjang dan mitigasi,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *