Agam – Bupati Agam Benni Warlis menegaskan masa depan anak tidak ditentukan oleh label negatif yang melekat pada dirinya, melainkan oleh sentuhan, doa, dan keyakinan guru yang mendidiknya.

Pesan itu ia sampaikan saat membuka Agam Inspiring Teacher 2026 yang digelar TV One di Auditorium Student Centre UIN Sjech Djamil Djambek, Selasa (28/7). Kegiatan tersebut diikuti ribuan pendidik dari berbagai wilayah Kabupaten Agam.

Benni menyebut pendidikan menjadi prioritas utama Pemerintah Kabupaten Agam melalui program unggulan Agam Cerdas. Sejumlah capaian pendidikan di daerah itu, termasuk meningkatnya jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi, menurutnya tidak lepas dari peran guru.

“Guru adalah profesi yang tidak pernah usang. Semua orang yang hari ini menjadi pemimpin, profesional maupun tokoh masyarakat merupakan hasil dari didikan seorang guru,” ujarnya.

Ia menambahkan, profesi guru patut disyukuri dan dijalankan dengan penuh keikhlasan. Menurut Benni, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga ladang amal yang pahalanya terus mengalir selama ilmu yang diajarkan masih bermanfaat.

Benni juga mengajak para pendidik untuk terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ia menilai perubahan karakter peserta didik dan kemajuan teknologi menuntut guru untuk terus belajar agar proses pembelajaran tetap relevan.

Di hadapan para guru, Benni menekankan pentingnya membangun persepsi positif terhadap setiap anak didik. Untuk memperkuat pesannya, ia menceritakan perjalanan hidupnya sendiri.

Saat duduk di bangku SMP, ia mengaku pernah dicap sebagai siswa nakal dan hampir tidak lulus. Posisinya pun hanya berada di peringkat 155 dari 160 siswa, hingga gagal diterima di SMA negeri di Sumatera Barat.

Namun setelah melanjutkan pendidikan di Jawa, ia justru menjadi juara kelas. Ia kemudian kembali membuktikan kemampuannya saat bersekolah di SMA Negeri 3 Padang.

Perjalanan itu berlanjut hingga ia menempuh pendidikan di bidang pertanian, menjadi penyuluh pertanian, kemudian Kepala Dinas Pertanian, Sekretaris Daerah, dan kini dipercaya memimpin Kabupaten Agam sebagai bupati.

“Jangan pernah memberi label negatif kepada anak. Bisa jadi anak yang hari ini dianggap bermasalah, kelak menjadi pemimpin. Tugas guru adalah memberikan kesempatan, membimbing, dan percaya pada potensi mereka,” kata Benni.

Ia juga menegaskan bahwa doa dan kata-kata positif dari guru memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter serta kepercayaan diri peserta didik. Karena itu, guru diminta lebih banyak menanamkan optimisme ketimbang menghakimi kekurangan siswa.

Hal itu, menurutnya, sejalan dengan semangat pembangunan karakter di Kabupaten Agam melalui program Bangkik dari Surau yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Benni menyebut pendidikan di Agam diarahkan untuk melahirkan generasi yang sehat jasmani, cerdas, sukses, sekaligus memiliki iman kuat sebagai bekal menghadapi tantangan zaman.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengibaratkan sebuah biola tua yang semula dianggap tidak bernilai, tetapi berubah menjadi sangat mahal setelah dimainkan oleh seorang maestro.

Menurutnya, kisah itu menjadi gambaran nyata peran guru dalam dunia pendidikan.

“Anak-anak yang mungkin hari ini dianggap biasa, bahkan bermasalah, sesungguhnya hanyalah menunggu sentuhan seorang guru. Guru adalah maestro yang mampu mengubah potensi menjadi prestasi. Setiap anak adalah karya terbaik Tuhan yang menunggu untuk ditemukan dan dikembangkan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *