Aceh Tamiang – Ratusan pekerja bahu-membahu membangun hunian sementara (huntara) untuk korban banjir di Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Pembangunan ini menjadi harapan baru bagi ribuan pengungsi yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir.

Pembangunan huntara ini merupakan kolaborasi antara tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya di bawah koordinasi Danantara. COO Danantara, Dony Oskaria menegaskan, pembangunan huntara ini adalah kewajiban, bukan sekadar imbauan.

Presiden RI dijadwalkan meninjau langsung lokasi huntara pada 1 Januari 2026 mendatang, sekaligus bertemu dengan para korban banjir.

Para pekerja bekerja 24 jam sehari secara bergantian untuk mempercepat pembangunan. “Kami harus siapkan 600 unit huntara dalam beberapa hari ini,” ujar Arwan, seorang pekerja di lokasi.

Kadiv Infra 2 Adhi Karya, Rony menambahkan, pihaknya mendatangkan teknisi dari berbagai daerah dan merekrut 100 tenaga kerja lokal untuk membangun sekitar 120 unit huntara lengkap.

Salah seorang pengungsi, Dewi, warga Aur Tamiang, mengungkapkan trauma yang dialaminya setiap kali melihat rumahnya yang rusak. Ia berharap bisa segera pindah ke huntara agar tidak terus-menerus teringat akan bencana.

Huntara yang dibangun berkonstruksi baja ringan, terdiri dari dua kamar, satu dapur, dan kamar mandi bersama. Setelah huntara selesai, pemerintah berencana membangun hunian tetap (huntap) bagi para korban banjir.

Banjir yang melanda Aceh Tamiang telah menyebabkan kerusakan parah. Sebanyak 439 sekolah rusak, dengan rincian 73 rusak berat, 306 rusak sedang, dan 60 rusak ringan. Saat ini, terdapat sekitar 150 ribu pengungsi di Aceh Tamiang yang sangat membutuhkan tempat tinggal yang layak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *