AGAM – Komunitas perfilman Sianak Minang dari Nagari Bukik Batabuah, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, resmi membentuk struktur manajemen baru untuk memperkuat pengembangan karya lokal.
Proses pembentukan manajemen berlangsung pada Senin (2/11/2026) dengan dihadiri jajaran pimpinan ALKA Group, pemerintah nagari, serta tim produksi film.
Langkah strategis ini bertujuan memperluas kiprah komunitas dalam mengangkat nilai sejarah, adat istiadat, serta kebudayaan Minangkabau ke kancah yang lebih luas.
Komunitas ini tengah mempersiapkan penayangan film ketiga mereka berjudul Pitaruah yang dijadwalkan hadir pada Minggu (15/11/2026) di Kantor LKAAM Sumatera Barat.
Wali Nagari Bukik Batabuah, Firdaus, menyatakan bahwa pengembangan perfilman ini membawa misi memperkenalkan jati diri Minangkabau kepada masyarakat luas.
“Kami dari Pemerintah Nagari ingin mengenalkan bagaimana adat istiadat dan sejarah Minangkabau berdiri,” ujar Firdaus.
Ia berharap karya-karya tersebut tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga menjangkau audiens internasional.
Firdaus menambahkan bahwa film menjadi media efektif untuk mengedukasi generasi muda mengenai peradaban Minangkabau sebagaimana kesuksesan film sejarah di daerah lain.
Pemeran utama film Pitaruah, Ahsanul Mujahid, mengungkapkan kebanggaannya atas totalitas seluruh elemen yang terlibat dalam produksi film ini.
“Saya merasa bangga dan sangat terharu karena kami bisa totalitas dalam menggarap film ini,” tutur Ahsanul.
Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk keterlibatan Ketua LKAAM Sumbar, Fauzi Bahar, sebagai bintang tamu.
Struktur baru komunitas menunjuk Hj. Lena MN sebagai Pimpinan Direksi dan Ajiswardi sebagai ketua.
Posisi wakil ketua diisi oleh Ahsanul Mujahid, sementara sekretaris dijabat Zulheri dan bendahara oleh Endrianto.
Tim kreatif dipimpin oleh Saloli sebagai sutradara, Indra Mayulis sebagai penulis cerita, serta Budi Setiawan sebagai pengembang divisi.
Firdaus dan Salmi Afrita didaulat menjadi penasihat untuk memastikan keberlangsungan organisasi ke depan.
Manajemen baru ini diharapkan menjadi wadah kreativitas anak nagari dalam memproduksi film yang berkualitas dan bermakna bagi budaya Minangkabau.











