Agam – Warga Jorong Padang Koto, Nagari Salareh Aia Utara, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, resah setelah diduga limbah PT Palalu Raya bocor dan mencemari Sungai Tungguo Buto. Air sungai yang selama ini menjadi sumber kebutuhan harian warga kini berubah keruh dan tak lagi bisa dipakai untuk minum, mandi, mencuci, maupun memasak.
Wali Nagari Salareh Aia Utara, Zulkifli, mengatakan kondisi itu memaksa warga mencari alternatif lain di tengah keterbatasan ekonomi. Sebagian warga terpaksa membeli air depot dan membuat sumur bor karena sumur biasa ikut tak layak digunakan. “Air tanah ikut berbau limbah,” kata Zulkifli, Kamis (23/7) di Salareh Aie, Kecamatan Palembayan.
Ia menambahkan, dampak keberadaan PT Palalu Raya tidak hanya dirasakan lewat pencemaran air. Sejak perusahaan itu beroperasi, sejumlah jalan dilaporkan rusak dan jembatan disebut sudah tujuh kali roboh.
Selain itu, sektor pertanian warga juga ikut terdampak. Sedikitnya 50 hektare sawah disebut tidak bisa ditanami, sementara 100 hektare kebun sawit warga rusak. Zulkifli menyebut persoalan itu sudah berlangsung lama dan belum tuntas.
Menurut dia, warga sejak 2014 telah bernegosiasi dengan PT PPR dan menghasilkan enam poin kesepakatan. Di antaranya, perusahaan menyediakan sarana air bersih, memagar IPAL di pinggir jalan menuju Tompek, menyediakan sarana pendidikan untuk anak balita, membangun SMP, memperbaiki jalan menuju Tompek, dan mengembalikan pengairan sawah seperti semula.
Namun hingga kini, warga menilai poin-poin itu belum terealisasi sepenuhnya.
Kasi Kesejahteraan Nagari Salareh Aia Utara, Jefridel, mengatakan sejak pabrik pengolahan kelapa sawit milik PT PPR berdiri, warga tidak lagi bisa menggunakan air Sungai Tungguo Buto. Ia menyebut limbah yang mencemari sungai berwarna coklat tua kehitaman, berbusa, dan berbau menyengat.
Upaya konfirmasi kepada pihak perusahaan belum membuahkan hasil. Saat didatangi, tidak ada pimpinan PT PPR di lokasi. Salah seorang satpam mengatakan perusahaan tidak memiliki humas, sehingga media belum bisa memperoleh keterangan resmi terkait dugaan kebocoran limbah tersebut.
Anggota DPRD Agam yang juga tokoh masyarakat Salareh Aie, Rahmat Rifai Koto, mengecam keras dugaan kebocoran limbah itu. Ia menilai perusahaan menunjukkan sikap tidak peduli terhadap keluhan warga yang terdampak.
Ia meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Agam dan DLH Provinsi segera menindaklanjuti persoalan tersebut karena disebut sudah berulang kali terjadi. Menurut dia, perusahaan dan dinas terkait seharusnya segera merespons keluhan masyarakat karena dampaknya sangat merugikan.
Sementara itu, Ketua LSM Garuda Nasional Indonesia DPW Sumbar, Rahmatsyah, mengatakan dugaan kebocoran limbah PT PPR sangat merugikan warga sekitar. Menurut dia, persoalan ini harus segera direspons oleh pengambil kebijakan dan instansi terkait di Agam.
Ia juga mendesak agar sampel limbah PT PPR segera diambil dan diuji di laboratorium. Rahmatsyah menilai, pencemaran sungai itu dikhawatirkan memicu penyakit menular, seperti penyakit kulit dan sakit perut, jika air sungai masih digunakan warga.
Pihaknya, kata dia, akan melakukan investigasi langsung ke lokasi pencemaran limbah PT PPR.











