Padang – Banjir bandang menerjang Kampung Guo, Kota Padang, menyebabkan kerusakan parah pada rumah warga dan menimbun sawah dengan material galodo. Ekspansi perkebunan sawit disinyalir menjadi penyebab utama bencana ini.

Sawit Watch menyebutkan bahwa banjir bandang ini bukan semata-mata akibat cuaca ekstrem. Pelanggaran batas daya dukung lingkungan juga menjadi faktor pemicu.

Kajian Sawit Watch dan koalisi masyarakat sipil menunjukkan bahwa Pulau Sumatera mengalami defisit ekologis akibat luas tutupan sawit yang mencapai 10,70 juta hektar.

Luas ini melampaui batas atas ideal sebesar 10,69 juta hektar, padahal kebutuhan lahan sawit hanya 1,53 juta hektar.

Direktur Eksekutif Sawit Watch, Achmad Surambo, mengungkapkan bahwa luas perkebunan sawit di Sumatera telah melampaui kapasitas ekosistem.

Masalah utama terletak pada distribusi spasial penanaman, di mana 5,97 juta hektare perkebunan sawit berada di wilayah variabel pembatas.

Alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit monokultur menghilangkan kemampuan alami lanskap sebagai penyerap air, sehingga memicu limpasan ekstrem dan bencana.

Sawit Watch menegaskan bahwa tanpa ekspansi baru, hanya kebun sawit eksisting yang dapat dipertahankan di Sumatera.

Analisis spasial menunjukkan tumpang tindih antara tutupan sawit, area berisiko, dan wilayah terdampak banjir.

Di Aceh, banjir parah terjadi di lanskap dengan 231.095,73 hektar konsesi sawit.

Di Mandailing Natal, Sumatera Utara, area terdampak banjir memiliki sekitar 65.707,93 hektar konsesi sawit.

Sementara di Pesisir Selatan, Sumatera Barat, banjir terjadi di wilayah dengan 24.004,33 hektar konsesi sawit.

Secara total, terdapat 320.807,98 hektar konsesi sawit dalam bentang lanskap yang mengalami banjir parah.

“Kombinasi faktor hidrologis dan ekspansi konsesi di zona sensitif menyebabkan risiko banjir semakin tinggi dan berdampak luas,” pungkas Surambo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *