Lubuk Basung – Pemerintah Kabupaten Agam menekankan pentingnya penguatan ketahanan mental para pendamping anak saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Manajemen Stres dan Trauma Healing bagi SDM Pendamping Anak Tahun 2026 di Hotel Sakura Syariah, Lubuk Basung, Selasa (23/6).
Kegiatan ini diikuti 25 peserta dari unsur guru SD, SMP, SLB, Dinas Sosial, serta Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dalduk KB PP dan PA) Kabupaten Agam.
Sekretaris Dinas Dalduk KB PP dan PA Agam, Nelfia Fauzana, mengatakan beban kerja pendamping anak kini kian berat dan berpotensi memicu kelelahan fisik maupun psikologis.
Ia menyebut, berbagai persoalan yang dihadapi anak, mulai dari perundungan, kekerasan seksual, kekerasan verbal, hingga beragam trauma lain di sekolah maupun panti asuhan, menjadi tantangan yang harus ditangani para pendamping.
“Situasi ini menuntut pendamping memiliki ketahanan mental yang baik agar layanan dan pendampingan dapat diberikan secara optimal,” ujarnya.
Bupati Agam yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Agam, Yunilson, menegaskan bahwa anak merupakan generasi penerus sekaligus aset berharga bagi masa depan daerah dan bangsa. Karena itu, semua pihak berkewajiban menjaga, melindungi, dan mendampingi anak agar tumbuh di lingkungan yang aman dan bahagia.
Ia menilai, tugas pendamping anak bukan pekerjaan yang ringan. Setiap hari, para pendamping berhadapan dengan anak-anak yang mengalami kesulitan, tekanan, dan trauma, sehingga berisiko menimbulkan stres bahkan trauma sekunder.
“Seringkali tanpa disadari, beban cerita dan penderitaan yang didengar setiap hari perlahan menjadi beban psikologis tersendiri. Jika kondisi psikologis pendamping tidak terjaga, maka kualitas layanan kepada anak juga akan terganggu,” katanya.
Menurut Yunilson, pemerintah daerah mengapresiasi pelaksanaan bimtek tersebut karena dinilai menjadi bentuk perhatian terhadap kesejahteraan, kesehatan mental, dan ketangguhan para pendamping anak.
Ia berharap peserta dapat memanfaatkan kegiatan itu untuk mengenali tanda-tanda stres dalam diri, memahami teknik manajemen stres dan trauma healing, serta membangun jejaring dan dukungan antarsesama pendamping.
“Pendamping yang sehat, bahagia, dan kuat akan mampu memberikan pendampingan yang berkualitas, aman, dan menenangkan bagi anak-anak. Kita tidak bisa memberikan ketenangan kepada anak jika diri kita sendiri belum tenang,” ujarnya.
Yunilson juga meminta peserta aktif mengikuti setiap materi yang disampaikan narasumber agar ilmu yang diperoleh bisa diterapkan dalam tugas sehari-hari dan dibagikan kepada pendamping anak lainnya.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pendamping anak atas dedikasi, pengorbanan, dan ketulusan mereka dalam mendampingi anak-anak di Kabupaten Agam.
“Mudah-mudahan apa yang kita upayakan dan lakukan hari ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi perlindungan dan masa depan generasi penerus bangsa, khususnya anak-anak Agam,” harapnya.











