Padang – Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menggandeng Universitas Andalas (Unand) untuk memperkuat upaya percepatan penurunan stunting di daerah itu.
Kolaborasi ini diarahkan sebagai langkah terstruktur guna menjaga kualitas kesehatan generasi mendatang. Pemkab Tanah Datar dan Unand sepakat menyusun program bersama yang mencakup sasaran jangka pendek, menengah, hingga panjang.
Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly, yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting (TP3S), mendatangi kampus Unand pada Selasa (26/5/2026) untuk mematangkan kerja sama tersebut. Pertemuan itu dihadiri Wakil Rektor I Unand Prof. Dr. Syukri Arief serta Direktur Studi Unand Prof. Dr. dr. Andani Eka Putra.
Ahmad Fadly menegaskan penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara terpisah. Menurut dia, persoalan itu membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar hasilnya lebih efektif.
“Kami membahas program kerja sama yang menyeluruh. Stunting adalah persoalan serius bagi masa depan generasi mendatang, sehingga penanganannya harus dilakukan secara masif dan terstruktur,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Unand akan menurunkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke 14 titik di Tanah Datar. Para mahasiswa itu akan mendapat pembekalan khusus untuk memberikan edukasi dan pendampingan pencegahan stunting kepada masyarakat di tingkat nagari.
Untuk target jangka menengah dan panjang, kedua pihak menargetkan prevalensi stunting turun hingga di bawah 10 persen dalam lima tahun ke depan. Mereka juga membidik penekanan angka kasus baru di bawah 5 persen.
Andani Eka Putra menjelaskan, pola intervensi yang disiapkan tidak hanya menyentuh sektor kesehatan. Program itu juga akan melibatkan aspek sosial, hukum, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia menyebut langkah awal yang dilakukan adalah memetakan persoalan di lapangan agar intervensi yang disusun tepat sasaran. “Semua kegiatan nantinya berbasis pada pendampingan masyarakat langsung di nagari,” kata Andani.
Saat ini, angka stunting di Tanah Datar masih berada di kisaran 26 persen. Melalui kemitraan ini, Unand optimistis angka tersebut bisa ditekan secara signifikan menjadi di bawah 14 persen dalam tiga hingga empat tahun mendatang.











