Pariaman – Pemerintah Kota Pariaman menggandeng Kementerian Ekonomi Kreatif untuk menjalankan program trauma healing bagi anak-anak penyintas bencana di Pulau Sumatera. Program ini akan memanfaatkan seni rupa dan seni pertunjukan, dengan agenda utama melukis bersama.

Wali Kota Pariaman Yota Balad menyatakan dukungan penuh saat menerima kunjungan perwakilan kementerian di ruang kerjanya, Rabu (29/7/2026). Ia menilai kegiatan tersebut penting untuk membantu pemulihan psikososial masyarakat, khususnya anak-anak yang terdampak bencana.

“Pemerintah daerah tentu mendukung penuh kegiatan ini,” kata Yota.

Yota menambahkan, program itu bukan hanya menjadi ruang pemulihan bagi anak-anak, tetapi juga berpeluang menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif di Kota Pariaman. Menurut dia, kegiatan berbasis seni dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kembali semangat para peserta.

Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Kemen Ekraf, Yomi Arizal, mengatakan Kota Pariaman menjadi satu dari dua lokasi utama pelaksanaan program nasional tersebut, bersama Kabupaten Aceh Tamiang. Ia menjelaskan, pendekatan seni dipilih agar anak-anak punya ruang untuk mengekspresikan diri dan melepaskan beban emosional setelah terdampak bencana.

“Harapannya, kegiatan ini bisa mengembalikan keceriaan dan memulihkan kesehatan mental peserta,” ujar Yomi.

Program trauma healing ini akan digelar dalam dua tahap. Tahap pertama berupa bootcamp yang berlangsung pada minggu kedua Agustus 2026 untuk pembinaan dan penguatan kapasitas peserta.

Tahap kedua dijadwalkan pada minggu keempat Agustus 2026 dalam bentuk showcase, yang menampilkan hasil karya kreatif peserta kepada masyarakat luas.

Pemerintah Kota Pariaman berharap kerja sama dengan Kemen Ekraf tidak berhenti pada program ini saja, tetapi dapat berlanjut ke proyek strategis lain yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam koordinasi tersebut, turut hadir Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Ferialdi serta Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Pariaman Hertati Taher.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *