Jakarta – Anggota DPR RI Fraksi PKS, Rahmat Saleh, menyatakan dukungan penuh terhadap pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI) yang akan mengelola ekspor satu pintu untuk komoditas strategis nasional. Namun, ia menegaskan keberhasilan perusahaan pelat merah itu tidak cukup diukur dari naiknya angka ekspor, melainkan dari manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Rahmat menilai selama ini Indonesia kerap dirugikan oleh mekanisme pasar global. Menurut dia, keuntungan dari komoditas unggulan seperti sawit dan nikel lebih banyak dinikmati pihak asing, meski Indonesia merupakan produsen utama yang semestinya memegang kendali penuh atas harga dan tata niaganya.
“Saya mendukung kebijakan Presiden terkait ekspor satu pintu melalui PT DSI. Sudah saatnya kita berhenti menjadi objek yang harganya ditentukan pihak luar. Kita punya sawit dan nikel, maka kita yang harus memegang kendali,” ujar Rahmat di Jakarta, Senin (2/6/2026).
Ia menyebut kebijakan itu sebagai langkah penting untuk memutus ketergantungan pada mekanisme pasar internasional yang dinilai tidak adil. Karena itu, Rahmat berjanji akan mengawal operasional PT DSI agar benar-benar berpihak pada kepentingan nasional.
Meski demikian, Rahmat memberi catatan kritis. Menurut dia, PT DSI tidak boleh berhenti sebagai entitas administratif yang sekadar mengurus ekspor. Perusahaan itu harus menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Ia menekankan, dampak kebijakan ini harus langsung dirasakan petani dan pelaku usaha lokal yang selama ini berada di garis depan rantai produksi.
“Keberhasilan PT DSI jangan hanya dilihat dari besaran penerimaan negara. Tolok ukur utamanya adalah kesejahteraan masyarakat, terutama petani yang selama ini rentan terhadap fluktuasi harga,” tegasnya.
Rahmat mencontohkan kondisi petani sawit di Sumatera Barat yang disebut tengah tertekan akibat anjloknya harga tandan buah segar (TBS). Ia menyebut harga di tingkat petani bahkan turun hingga Rp600 per kilogram dari harga normal.
Karena itu, ia mendesak pemerintah dan BUMN terkait segera turun tangan untuk menstabilkan harga agar petani tidak terus merugi.
PT DSI sendiri diproyeksikan menjadi BUMN baru yang mengonsolidasikan ekspor komoditas strategis. Pada tahap awal, perusahaan itu akan fokus pada kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi atau ferro alloys.
Rahmat berharap mekanisme satu pintu ini mampu membuat tata kelola ekspor nasional lebih transparan, efisien, dan pada akhirnya mengembalikan keuntungan sumber daya alam Indonesia ke tangan rakyat.











