Tanjung Raya – Bencana longsor dan banjir bandang (galodo) yang melanda Jorong Balai Belo, Agam, Sumatera Barat, telah memicu solidaritas warga. Alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan yang sempat terputus.

Warga bahu-membahu membersihkan rumah-rumah yang tertimbun lumpur dan material longsor sejak Jumat (27/11).

Bencana yang terjadi sejak 24 November lalu ini, diawali hujan deras yang menyebabkan Sungai Banda Guntuang meluap dan menyumbat jembatan.

Longsor susulan yang lebih besar kemudian menerjang, merusak puluhan rumah dan menimbun lahan pertanian.

Akibatnya, sekitar 36 keluarga atau 96 jiwa terpaksa mengungsi.

Ketua Umum Ikatan Keluarga Balai Belo Membangun (IKBM), Ir. Elvi Roza, MT, IPU, CSE., Dt. Batuah, berharap perhatian dan bantuan dari berbagai pihak untuk pemulihan pasca bencana.

“Banyak warga yang gagal panen padi dan lahan pertanian hancur,” ujarnya.

Dampak galodo ini meliputi tertimbunnya intake air bersih, bendungan, jalan kabupaten sepanjang 650 meter, sawah seluas 50-60 hektar, kolam ikan 2 hektar, dan lahan palawija sekitar 5 hektar.

Bantuan dari berbagai pihak terus berdatangan, termasuk dari perantau Balai Belo melalui organisasi IKBM sebesar Rp 45 juta untuk kebutuhan dapur umum.

Dinas Sosial, Ormas Salimah, BPBD, Baznas Agam, Kecamatan Tanjung Raya, dan alumni SMAN 1 Maninjau juga turut memberikan bantuan.

Walinagari Koto Kaciak, Syawaldi, dan Wali Jorong Balai Belo, Dafri. F. Putra, berharap Pemkab segera membantu memulihkan infrastruktur yang hancur.

Prioritas utama adalah pembangunan kembali bendung dan saluran irigasi, intake air bersih, perbaikan jalan dan jembatan, serta normalisasi aliran sungai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *