Jakarta – Lebih dari seribu nyawa melayang akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Data terbaru mencatat 1.204 orang meninggal dunia dan 140 lainnya masih hilang.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, lebih dari 105 ribu warga terpaksa mengungsi akibat banjir dan longsor yang meluas.
Pemerintah pusat dan daerah terus berupaya mempercepat penanganan darurat dan pemulihan pasca-bencana.
Fokus utama saat ini adalah pembangunan hunian sementara (huntara) untuk para pengungsi. BNPB menargetkan pembangunan huntara selesai sebelum bulan Ramadan.
Selain itu, pembukaan akses jalan dan jembatan yang terputus serta pemulihan kawasan permukiman menjadi prioritas utama.
Sejak akhir November 2025 hingga akhir Januari 2026, bantuan logistik sebanyak 1.767,07 ton telah disalurkan ke wilayah terdampak.
Pendistribusian logistik dilakukan melalui berbagai jalur, termasuk pesawat charter BNPB, pesawat Hercules, truk, dan kapal laut.
Hingga kini, 5.039 unit huntara dari total 17.332 yang diajukan telah selesai dibangun dan siap dihuni.
Pemerintah juga terus mengoptimalkan penyaluran Bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) kepada para korban.
BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di tiga provinsi terdampak untuk mengendalikan curah hujan dan mencegah bencana susulan. Ratusan sorti penerbangan telah dilakukan dengan menyemai ratusan ribu kilogram bahan semai di langit Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
BNPB menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait agar penanganan bencana berjalan efektif dan berkelanjutan.











